Amsterdam, JALAN LIHAT DAN CERITA – Meskipun terikat dalam gemuruh musim dingin yang sejuk, perjalanan ke Museum Multatuli di Amsterdam pada bulan Desember menyuguhkan pengalaman tak terlupakan. Berbeda dengan Museum Multatuli di Banten, Amsterdam mengajak pengunjung merenung di balik kisah hidup penulis besar Belanda, Eduard Douwes Dekker, yang dikenal dengan nama pena Multatuli.
Perjalanan dimulai dari Stasiun Kereta Api Centraal Amsterdam, pusat transportasi utama di kota ini. Dengan kereta api dari Schipol Amsterdam, perjalanan singkat sepuluh menit membawa pengunjung ke depan pintu masuk Museum Multatuli. Berlokasi di Jalan Korsjespoortsteeg 20 No 1015 AR Amsterdam, museum ini merupakan bekas kediaman Multatuli yang kini diubah menjadi tempat penuh sejarah oleh komunitas pecinta Multatuli.
Dalam bangunan yang sederhana namun sarat makna, dua orang petugas museum dengan ramah siap memandu perjalanan ke dalam sejarah Multatuli. Naskah asli Multatuli dalam berbagai bahasa menghiasi dinding museum, menciptakan jendela ke dalam pikiran penulis yang kontroversial ini. Selain itu, koleksi barang pribadi Mulatuli, mulai dari pena hingga benda-benda lainnya, dipamerkan dengan apik, memberikan sentuhan personal pada pengalaman pengunjung.
Meskipun museum ini tidak besar, kekayaan sejarah yang disajikan di setiap sudutnya membuatnya layak dikunjungi. Suasana yang tenang dan penuh penghormatan terhadap warisan Multatuli menciptakan pengalaman yang tak terlupakan. Pengunjung dapat merasakan aura kehidupan penulis terkenal ini, meresapi inspirasi dan pemikirannya yang terekam dalam setiap karyanya.
Di area sekitar Museum Multatuli, terdapat patung monumental yang didedikasikan untuk mengenang Multatuli. Berbeda dengan patung di Banten, patung ini terletak sekitar 300 meter dari museum, tepat di dekat sebuah jembatan. Dengan latar belakang Amsterdam yang indah, patung itu menjadi simbol penghargaan terhadap kontribusi besar Multatuli dalam dunia sastra.
Selain menjelajahi museum, perjalanan ini juga membuka lembaran sejarah Amsterdam. Dari Stasiun Kereta Api Centraal Amsterdam hingga ke jalan-jalan kuno yang pernah ditempuh oleh Multatuli, setiap langkah membawa kita lebih dekat dengan pemikiran dan perjuangan penulis besar ini.
Multatuli, nama pena dari Eduard Douwes Dekker, lahir pada 2 Maret 1820 di Amsterdam. Awalnya bekerja sebagai pegawai administratif di Hindia Belanda, pengalamannya di sana memicu kesadaran akan ketidakadilan kolonial. Karyanya yang paling terkenal, “Max Havelaar” (1860), mengungkap eksploitasi para petani di Hindia Belanda dan memberikan dampak besar dalam gerakan reformasi kolonial.
Dekker mengecam sistem kolonial dengan tajam, menggunakan narasi fiksi sebagai sarana kritik sosial. Selain itu, ia juga dikenal sebagai filsuf dan humanis. Meskipun meninggal pada 19 Februari 1887, karyanya terus memengaruhi perjalanan sejarah sastra dan pergerakan sosial di Belanda.
Dengan perpaduan antara pengalaman museum yang mendalam dan eksplorasi sejarah Amsterdam, perjalanan ke Museum Multatuli menjadi perjalanan yang membangkitkan semangat dan memperkaya pengetahuan akan warisan budaya dan intelektual Multatuli.
Halo Sobat JLC… Perjalanan kita kali ini memang berbeda dari perjalanan-perjalanan sebelumnya, karena sekarang saya…
Buongiorno a tutti... Halo Sobat JLC, Minggu lalu kita sudah napak tilas tentang Jakarta yang…
Pendahuluan Mengunjungi kota atau negara tertentu, banyak orang yang selalu berusaha untuk mengenal dan beradaptasi…
Halo teman-teman, kembali bersama saya Jackie di Jalan Lihat dan Cerita. Dari Bangka kali lalu…
Bersahabat dengan Alam: Memahami dan Menjaga Keseimbangan AlamHalo sobat JLC,Artikel kali ini akan membahas tentang…
Halo sobat JLC, kesibukan dalam beraktivitas kadang membuat kita mudah lemas dan lelah, karena tidak…